Tampilkan postingan dengan label Bioskop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bioskop. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn (2011), salah satu calon film box office neh.

Banyak yang mempertanyakan sutradara Steven Spielberg dan Peter Jackson keputusan produser untuk membuat seri klasik Hergé komik-buku Pemilik gaya Boy petualangan dalam kinerja-capture animasi. Tapi sulit untuk membayangkan bahwa baik tindakan hidup atau animasi tradisional akan mampu memproduksi campuran mendebarkan drama tinggi, keaslian fisik dan penemuan visual yang ditemukan di sini. Mengakhiri absen tiga tahun setelah mengecewakan-Nya 'Indiana Jones dan Kerajaan Tengkorak Kristal', 'Tintin' menemukan kembali energi Spielberg pendamaian bagi yang salah langkah dengan film yang, baik rip-mengaum narasi, dunia pengelilingan dan dedikasi visceral untuk murni putih-buku jari sensasi, adalah penerus sejati untuk trilogi aslinya "Indy".
Kami pertama kali bertemu pahlawan awet muda kita duduk untuk potret seorang seniman di alun-alun pasar kota rumah tidak ditentukan (dalam yang pertama dalam serangkaian panjang jenaka, lelucon reflektif diri penglihatan, karikatur tampak seperti gambar Hergé). Mata Tintin ditangkap oleh sebuah warung sampah dan sebuah kapal model di layar. Ini adalah Unicorn - 1 / 16-abad ke tiga-bertiang galleon yang turun dengan semua tangan dan perut penuh rampasan. Perburuan harta ini akan mengirim Tintin, anjingnya yang setia Snowy dan kader pemasangan mendukung pemain pada perjalanan melintasi lautan dan gurun, dengan kapal, pesawat, sepeda motor jip, dan mungkin yang paling mengesankan, pengangkutan crane.
Menempel ide Hergé Tintin sebagai pahlawan, relatif pasif berwarna dikelilingi oleh arketipe aneh, Spielberg dan tim retak penulis komedi Inggris - Joe Cornish, Edgar Wright, Steven Moffat - mengisi layar dengan karakter sangat aneh dan mengesankan, terutama yang tak ada bandingannya Kapten Haddock, seorang menggelepar, wiski-bernapas rendam megah oleh Andy Serkis menyadari. Dan sementara ini berarti beberapa karakter bisa diabaikan - kita tidak pernah mendapatkan pegangan pada kumis-twirlingly Daniel Craig Sakharine jahat, misalnya - itu tidak membuat untuk tidak menonjol momen membosankan.
Secara visual, film ini mencengangkan, karena Spielberg mengambil keuntungan penuh dari kebebasan media yang dipilihnya. Urutan kilas balik pertengahan film, Haddock menceritakan tenggelamnya Unicorn, harus peringkat sebagai salah satu terbaik direktur set-piece, sebuah memusingkan mish-mash tembakan pelacakan mustahil, manik tindakan dan beberapa transisi adegan yang paling inventif yang pernah disusun . Ini tingkat intensitas visual dapat menjadi membingungkan - urutan Maroko kemudian mengejar mendorong hal-hal terlalu jauh, mengakibatkan kebingungan belaka - tetapi untuk sebagian besar, itu menyenangkan.
Jadi, sementara itu mungkin kurangnya kedalaman dan kemanusiaan karya seperti 'Jaws' dan 'ET', 'Tintin' tanpa keraguan contoh terbaik keluarga ramah sisi menyenangkan Spielberg sejak 'Jurassic Park'. Ini juga blockbuster, paling kreatif menyenangkan dan menyegarkan tahun.

Kamis, 10 November 2011

"Sang Penari" potret suram pasca tragedi


Tragedi nasional yang menimpa republik ini pada tahun 1965 atau yang dikenal dengan G30S (Gerakan 30 September) hingga kini masih menyisakan sisi-sisi buram bagi bangsa Indonesia.
Sebuah gerakan pemberontakan yang "didalangi" Partai Komunis Indonesia (PKI) itu tidak saja merenggut nyawa tujuh perwira tinggi yang kemudian dikenal sebagai Pahlawa Revolusi, namun juga mengorbankan nyawa jutaan anak bangsa.
Pasca G30S tahun 1965, pemerintah dibawah rezim orde baru melakukan gerakan pembersihan terhadap semua unsur yang dinyatakan terlibat dalam tragedi berdarah tersebut, tak terkecuali para pekerja seni dari rakyat bawah.
Melalui "Sang Penari" sutradara muda Ifa Ifansyah sepertinya ingin menunjukkan sebuah potret buram pasca tragedi 1965 yang hingga kini dinilai sebagai salah satu sisi kelam kehidupan berkebangsaan di Indonesia.
Film Sang Penari yang terinspirasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut mengisahkan kehidupan Srintil ronggeng dari Dukuh Paruk pada era 1960an.
Bertahun-tahun Dukuh Paruk kehilangan "kehidupannya" setelah kejadian keracunan massal tempe bongkrek yang menewaskan warga Dukuh Paruk dan salah satunya korbannya adalah Surti, seorang ronggeng  dukuh tersebut.
Srintil (Prisia Nasution), yang sejak kecil suka menari diyakini memiliki indang atau roh ronggeng, kemudian oleh kakeknya, Sakarya (Landung Simatupang) gadis itu dibawa ke dukun ronggeng, Kertareja (Slamet Raharjo) agar "dipoles" menjadi ronggeng yang sesungguhnya.
Kehidupan Dukuh Paruk pun kembali bergairah setelah memiliki ronggeng yang baru, terlebih lagi pesona Srintil mampu membuat dirinya menjadi ronggeng yang terkenal.
Namun ketenaran Srintil sebagai seorang ronggeng justru membuat tidak senang Rasus (Oka Antara) teman sepermainannya sejak kecil -yang ternyata mencintainya. Terlebih lagi seorang ronggeng tidak hanya dituntut mampu membawakan tarian namun juga melayani lelaki.
Rasus akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk dengan  cintanya kepada Srintil dan kemudian masuk menjadi tentara.
Sepeninggalan Rasus, ronggeng Dukuh Paruk semakin berkibar hingga kesenian tersebut akhirnya direkrut oleh sebuah partai untuk menarik massa dalam setiap aksi propagandanya.
Angin ternyata berbalik, kegagalan Gerakan 30 September di Jakarta, akhirnya merembet hingga ke Dukuh Paruk yang harus menerima akibatnya karena "keterlibatannya" dalam tragedi tersebut.
Sebagai film yang memotret pasca tragedi 1965, Sang Penari bisa dibilang cukup berani, karena sang sutradara menampilkan adegan pembantaian massal yang dilakukan TNI terhadap masyarakat yang diindikasikan terlibat ataupun anggota partai komunis.
Seperti yang diakui oleh penulisnya, Ahmad Tohari, bahwa dia tidak seberani Ifa Ifansyah dalam melukiskan pembunuhan massal tersebut.
"Novel ini saya tulis tahun 1980an. Saya takut jika menulis terlalu vulgar bisa-bisa peluru menembus kepala saya," kata pria kelahiran Kabupaten Banyumas 1948 itu.
Keberanian Ifa yang juga sutradara Garuda Di Dadaku, mengangkat novel Ronggeng Dukuh Paruk dari sudut pandang politik dalam negeri era 1960an bisa jadi menjadi selling point Sang Penari.
Ia mengakui, hingga saat ini masih minim film nasional yang mengambil tema pemberontakan PKI, kalaupun ada baru tiga yakni "Pemberontakan G30S/PKI" yang menjadi tontonan wajib pada masa orde baru, kemudian "Gie" serta "Sang Penari".
Sebenarnya bukan baru kali ini Ronggeng Dukuh Paruk diangkat ke layar lebar. Pada era 1980an sutradara Yasman Yazid memfilmkannya dengan judul "Darah dan Mahkota Ronggeng".
Namun saat itu, film yang dibintangi Eny Beatrice sebagai Srintil dan Ray Sahetapy sebagai Rasus, hanya mengambil sudut pandang kehidupan ronggengnya dan menonjolkan sisi erotis dan seks. "Karena itu saya tidak pernah menonton film tersebut hingga saat ini," kata Ahmad Tohari yang mengaku kecewa.
Di tengah film nasional bertema hantu dan erotisme, Sang Penari bisa menjadi tontonan yang bermutu, terlebih lagi dari sisi sinematrografi gambar-gambar yang disuguhkan cukup bagus dan nyaman untuk dinikmati.
Yang juga patut diapresiasi dari Sang Penari yakni terlihat sekali unsur ke-Indonesiaan, bahasa Banyumas sangat mendominasi dialog-dialognya, tidak sekedar tempelan satu dua kata, sehingga warna lokal begitu kental.
Pemain utama Prisia Nasution yang pasti dari namanya dari Batak dan Oka Nyoman Antara yang orang Bali begitu masuk memerankan Srintil dan Rasus yang merupakan penduduk Banyumas dengan bahasa Jawa yang ngapak-ngapak.
Jika ada sedikit kelemahan, karena film ini merupakan interpretasi sang sutradara terhadap novel, bagi yang belum membaca versi bukunya akan sedikit bingung mengikuti adegan yang terlalu cepat melompat-lompat tanpa ada adegan penjelasan.
Sedangkan bagi mereka yang sudah membaca bisa jadi akan "protes" karena Ifa melakukan perubahan-perubahan dalam karyanya sehingga sedikit melenceng dari novelnya.
"Dalam bagian akhir film ini tertulis ’terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk’, jadi saya tidak sedang memfilmkan novel itu tapi mengambil inspirasi," kata Ifa memberikan alasannya.