Tampilkan postingan dengan label bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahagia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 November 2011
"Sang Penari" potret suram pasca tragedi
Tragedi nasional yang menimpa republik ini pada tahun 1965 atau yang dikenal dengan G30S (Gerakan 30 September) hingga kini masih menyisakan sisi-sisi buram bagi bangsa Indonesia.
Sebuah gerakan pemberontakan yang "didalangi" Partai Komunis Indonesia (PKI) itu tidak saja merenggut nyawa tujuh perwira tinggi yang kemudian dikenal sebagai Pahlawa Revolusi, namun juga mengorbankan nyawa jutaan anak bangsa.
Pasca G30S tahun 1965, pemerintah dibawah rezim orde baru melakukan gerakan pembersihan terhadap semua unsur yang dinyatakan terlibat dalam tragedi berdarah tersebut, tak terkecuali para pekerja seni dari rakyat bawah.
Melalui "Sang Penari" sutradara muda Ifa Ifansyah sepertinya ingin menunjukkan sebuah potret buram pasca tragedi 1965 yang hingga kini dinilai sebagai salah satu sisi kelam kehidupan berkebangsaan di Indonesia.
Film Sang Penari yang terinspirasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut mengisahkan kehidupan Srintil ronggeng dari Dukuh Paruk pada era 1960an.
Bertahun-tahun Dukuh Paruk kehilangan "kehidupannya" setelah kejadian keracunan massal tempe bongkrek yang menewaskan warga Dukuh Paruk dan salah satunya korbannya adalah Surti, seorang ronggeng dukuh tersebut.
Srintil (Prisia Nasution), yang sejak kecil suka menari diyakini memiliki indang atau roh ronggeng, kemudian oleh kakeknya, Sakarya (Landung Simatupang) gadis itu dibawa ke dukun ronggeng, Kertareja (Slamet Raharjo) agar "dipoles" menjadi ronggeng yang sesungguhnya.
Kehidupan Dukuh Paruk pun kembali bergairah setelah memiliki ronggeng yang baru, terlebih lagi pesona Srintil mampu membuat dirinya menjadi ronggeng yang terkenal.
Namun ketenaran Srintil sebagai seorang ronggeng justru membuat tidak senang Rasus (Oka Antara) teman sepermainannya sejak kecil -yang ternyata mencintainya. Terlebih lagi seorang ronggeng tidak hanya dituntut mampu membawakan tarian namun juga melayani lelaki.
Rasus akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk dengan cintanya kepada Srintil dan kemudian masuk menjadi tentara.
Sepeninggalan Rasus, ronggeng Dukuh Paruk semakin berkibar hingga kesenian tersebut akhirnya direkrut oleh sebuah partai untuk menarik massa dalam setiap aksi propagandanya.
Angin ternyata berbalik, kegagalan Gerakan 30 September di Jakarta, akhirnya merembet hingga ke Dukuh Paruk yang harus menerima akibatnya karena "keterlibatannya" dalam tragedi tersebut.
Sebagai film yang memotret pasca tragedi 1965, Sang Penari bisa dibilang cukup berani, karena sang sutradara menampilkan adegan pembantaian massal yang dilakukan TNI terhadap masyarakat yang diindikasikan terlibat ataupun anggota partai komunis.
Seperti yang diakui oleh penulisnya, Ahmad Tohari, bahwa dia tidak seberani Ifa Ifansyah dalam melukiskan pembunuhan massal tersebut.
"Novel ini saya tulis tahun 1980an. Saya takut jika menulis terlalu vulgar bisa-bisa peluru menembus kepala saya," kata pria kelahiran Kabupaten Banyumas 1948 itu.
Keberanian Ifa yang juga sutradara Garuda Di Dadaku, mengangkat novel Ronggeng Dukuh Paruk dari sudut pandang politik dalam negeri era 1960an bisa jadi menjadi selling point Sang Penari.
Ia mengakui, hingga saat ini masih minim film nasional yang mengambil tema pemberontakan PKI, kalaupun ada baru tiga yakni "Pemberontakan G30S/PKI" yang menjadi tontonan wajib pada masa orde baru, kemudian "Gie" serta "Sang Penari".
Sebenarnya bukan baru kali ini Ronggeng Dukuh Paruk diangkat ke layar lebar. Pada era 1980an sutradara Yasman Yazid memfilmkannya dengan judul "Darah dan Mahkota Ronggeng".
Namun saat itu, film yang dibintangi Eny Beatrice sebagai Srintil dan Ray Sahetapy sebagai Rasus, hanya mengambil sudut pandang kehidupan ronggengnya dan menonjolkan sisi erotis dan seks. "Karena itu saya tidak pernah menonton film tersebut hingga saat ini," kata Ahmad Tohari yang mengaku kecewa.
Di tengah film nasional bertema hantu dan erotisme, Sang Penari bisa menjadi tontonan yang bermutu, terlebih lagi dari sisi sinematrografi gambar-gambar yang disuguhkan cukup bagus dan nyaman untuk dinikmati.
Yang juga patut diapresiasi dari Sang Penari yakni terlihat sekali unsur ke-Indonesiaan, bahasa Banyumas sangat mendominasi dialog-dialognya, tidak sekedar tempelan satu dua kata, sehingga warna lokal begitu kental.
Pemain utama Prisia Nasution yang pasti dari namanya dari Batak dan Oka Nyoman Antara yang orang Bali begitu masuk memerankan Srintil dan Rasus yang merupakan penduduk Banyumas dengan bahasa Jawa yang ngapak-ngapak.
Jika ada sedikit kelemahan, karena film ini merupakan interpretasi sang sutradara terhadap novel, bagi yang belum membaca versi bukunya akan sedikit bingung mengikuti adegan yang terlalu cepat melompat-lompat tanpa ada adegan penjelasan.
Sedangkan bagi mereka yang sudah membaca bisa jadi akan "protes" karena Ifa melakukan perubahan-perubahan dalam karyanya sehingga sedikit melenceng dari novelnya.
"Dalam bagian akhir film ini tertulis ’terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk’, jadi saya tidak sedang memfilmkan novel itu tapi mengambil inspirasi," kata Ifa memberikan alasannya.
Jumat, 28 Oktober 2011
SPASI
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda??
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.
Label:
bahagia,
filosofi,
filosopi kopi,
green tea,
harapan,
kopi,
metabolisme,
wanita
Lokasi:
Cicalengka, Indonesia
filosofi kopi dan Teh
TIDAK selamanya kopi itu jahat. Di dalam secangkir kopi terdapat manfaat baik. Peneliti di Harvard menemukan fakta bahwa peminum kopi memiliki risiko terkena diabetes lebih kecil, baik yang mengandung kafein atau dekafein.
Kafein yang terdapat dalam kopi membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak. Selain itu, minuman ini juga ternyata dapat mengurangi nafsu makan sampai 35 persen dan membuat orang jadi semangat berolahraga. Namun, konsumsi kopi sebaiknya tidak lebih dari dua cangkir setiap hari karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan denyut jantung 2 kali lipat. Sebaiknya minum kopi pahit karena yang berbahaya justru gula yang biasanya menemani kopi.
Minuman sehat yang juga disarankan adalah teh hijau. Manfaat teh hijau dapat meningkatkan pembakaran lemak serta membantu memblok asupan lemak bila diminum sebelum makan. Teh hijau juga sangat membantu menetralkan efek radikal bebas pada tubuh akibat olahraga. Jadi, mana yang Anda pilih?
Kafein yang terdapat dalam kopi membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak. Selain itu, minuman ini juga ternyata dapat mengurangi nafsu makan sampai 35 persen dan membuat orang jadi semangat berolahraga. Namun, konsumsi kopi sebaiknya tidak lebih dari dua cangkir setiap hari karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan denyut jantung 2 kali lipat. Sebaiknya minum kopi pahit karena yang berbahaya justru gula yang biasanya menemani kopi.
Minuman sehat yang juga disarankan adalah teh hijau. Manfaat teh hijau dapat meningkatkan pembakaran lemak serta membantu memblok asupan lemak bila diminum sebelum makan. Teh hijau juga sangat membantu menetralkan efek radikal bebas pada tubuh akibat olahraga. Jadi, mana yang Anda pilih?
Langganan:
Postingan (Atom)