SATU lagi sineas muda Indonesia mengangkat cerita novel ke dalam sebuah karya film. Ya, dialah sutradara muda Isa Isfansyah yang memilih trilogi novel "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari untuk dijadikan film layar lebar-nya. Film itu berkisah tentang kisah cinta sepasang kekasih Srintil dan Rasus pada tahun 1960-an. Cinta Srintil harus terpasung lantaran menuruti cita-citanya di masa kecil menjadi seorang penari.
Ifa butuh 40 hari untuk menggarap kisah cinta Srintil dan Rasus itu. Ia mampu memilih sudut mana yang diangkat dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk.
"Sejak awal saya sudah berniat mengambil tema besar tentang cinta. Keterbatasan film adalah durasi. Pandai-pandai menentukan angel cerita dari sekian lembar novel untuk diangkat dalam sebuah film. Cinta menjadi sudut pandang yang dipilih untuk mengintrepetasikan Ronggeng Dukuh Paruk ke dalam film Sang Penari," ujar sutradara asal Yogyakarta itu kepada Metrotvnews.com, sesuai mengisi acara di program 811Show.
Bagaimana membuat kejadian di tahun 1960-an relevan dengan kejadian di era sekarang merupakan tantangan Ifa dalam pembuatan film ini. Soal setting adalah urusan teknis yang ada di semua produksi film.
“Bagaimana caranya membuat penonton sedekat mungkin dan merasa di tahun 60-an itu yang perlu dilakukan,” tutur Ifa soal kesulitannya dalam menggarap film itu.
Film yang mengambil latar belakang di daerah Banyumas, itu, sempat tertunda pembuatannya karena alasan pendanaan. Namun, jeda waktu itu justru diisi Ifa untuk mematangkan persiapan dan karakter Srintil yang diperankan Prisia Nasution dan Rasus yang dilakonkan Nyoman Oka Antara.
Jalinan cinta Srintil dan Rasus penuh liku-liku. Itu karena Srintil ingin memenuhi cita-citanya di masa kecil menjadi seorang penari ronggeng. Di masa itu penari ronggeng mampu mengangkat nama keluarga dan dipercaya disemayami roh Dewi Kesuburan. Cinta Srintil kepada Rasus pun akhirnya termutilasi kepentingan, kepercayaan tradisi, dan ego pribadi.
Film ini sarat unsur antropologi dan sosial budaya yang menggambarkan kehidupan era 1960-an yang miskin dan serba kekurangan. Ifa pun tak bertele-tele saat mengarahkan film ini.
”Film ini film organik. Film yang tampil alami. Saya tidak memberi batasan pada pemain untuk mengeksplor kemampuannya dalam berakting. Saya biarkan Pia (Prisia Nasution) menginterpretasi skenario dan bergerak sesukanya.”
Namun Ifa dan timnya sempat kecewa setelah mengetahui Lembaga Sensor Film memotong beberapa adegan karena dianggap vulgar. ‘Tidak ada cerita yang terpotong. Tapi emosi dari pemain ada yang hilang dan tak lengkap,” ungkap pria kelahiran 1979 itu.
Dalam Ronggeng Dukuh Paruk itu diceritakan bahwa tokoh Srintil adalah penari penuh magis yang membuat tetua adat daerah itu percaya, wanita itu adalah titisan ronggeng. Karena itu, Ifa memberi dukungan dan kepercayaan sepenuhnya pada Pia sebagai penari. Meski artis pilihannya itu bukanlah penari tradisional, Ifa mendoktrin Pia untuk bergerak lincah apa adanya.
“Yang penting tahu dasar gerakan tari. Setelah itu saya yakinkan ia untuk bergerak sebebas-bebasnya dalam menari,” kata Ifa.
Sutradara jebolan Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Televisi itu mengatakan tidak ada misi tertentu dalam film-nya itu. Ia hanya ingin membuat film yang bagus dan bisa mengkomunikasikan cerita lewat film. Dan pastinya film itu bermutu dan layak ditonton.
Kreativitas mumpuni dari tata kamera yang digarap Yadi Sugandi dan penata artistik Eros Elfin melengkapi kesempurnaan film "Sang Penari". Ditambah lagi pasangan Aksan dan Titi Sjuman yang mampu menghidupkan atmosfer tahun 60-an. Dukungan penata kostum Citra Subijakto juga mampu menghidupkan karakter aktor dan artis di film panjang kedua buatan Ifa itu.
Tak ketinggalan Bruno Tarierre dan Khikmawan Santosa menghadirkan paduan visual dan audio yang memuaskan penonton sepanjang film
Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 November 2011
Jumat, 28 Oktober 2011
SPASI
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda??
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.
Label:
bahagia,
filosofi,
filosopi kopi,
green tea,
harapan,
kopi,
metabolisme,
wanita
Lokasi:
Cicalengka, Indonesia
filosofi kopi dan Teh
TIDAK selamanya kopi itu jahat. Di dalam secangkir kopi terdapat manfaat baik. Peneliti di Harvard menemukan fakta bahwa peminum kopi memiliki risiko terkena diabetes lebih kecil, baik yang mengandung kafein atau dekafein.
Kafein yang terdapat dalam kopi membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak. Selain itu, minuman ini juga ternyata dapat mengurangi nafsu makan sampai 35 persen dan membuat orang jadi semangat berolahraga. Namun, konsumsi kopi sebaiknya tidak lebih dari dua cangkir setiap hari karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan denyut jantung 2 kali lipat. Sebaiknya minum kopi pahit karena yang berbahaya justru gula yang biasanya menemani kopi.
Minuman sehat yang juga disarankan adalah teh hijau. Manfaat teh hijau dapat meningkatkan pembakaran lemak serta membantu memblok asupan lemak bila diminum sebelum makan. Teh hijau juga sangat membantu menetralkan efek radikal bebas pada tubuh akibat olahraga. Jadi, mana yang Anda pilih?
Kafein yang terdapat dalam kopi membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak. Selain itu, minuman ini juga ternyata dapat mengurangi nafsu makan sampai 35 persen dan membuat orang jadi semangat berolahraga. Namun, konsumsi kopi sebaiknya tidak lebih dari dua cangkir setiap hari karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan denyut jantung 2 kali lipat. Sebaiknya minum kopi pahit karena yang berbahaya justru gula yang biasanya menemani kopi.
Minuman sehat yang juga disarankan adalah teh hijau. Manfaat teh hijau dapat meningkatkan pembakaran lemak serta membantu memblok asupan lemak bila diminum sebelum makan. Teh hijau juga sangat membantu menetralkan efek radikal bebas pada tubuh akibat olahraga. Jadi, mana yang Anda pilih?
Langganan:
Postingan (Atom)